Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Ngaku Yahudi, Wanita Ini Banting Al Qur'an Berkali-kali, Usai Ditangkap Polisi Ngakunya Begini

Ngaku Yahudi, Wanita Ini Banting Al Qur'an Berkali-kali, Usai Ditangkap Kok Malah Nangis Gini


Ince, wanita pelempar Alquran yang videonya viral di media sosial Makassar, kini telah diamankan Polres Pelabuhan.

Baru-baru ini, sebuah video memperlihatkan aksi perempuan melempar dan hendak membakar Alquran mendadak jadi viral di media sosial (medsos).

Peristiwa ini terjadi di Kelurahan Mampu, Kecamatan Wajo, Kota Makassar, Kamis (9/7/2020) kemarin. Perempuan itu mengaku sebagai Yahudi.

Dari video yang beredar, perempuan mengenakan pakaian merah muda baju dan rok pendek merah tampak cekcok dengan seorang pria dalam tayangan.

Dia marah meledak-ledak dan melempar Alquran ke arah orang tersebut. Beberapa kalimat tak pantas juga keluar dari mulutnya sambil mencak-mencak.

“Saya tidak pakai dosa, saya Yahudi, keluargamu, keluarga apa itu?” ucap wanita tersebut.

Pelaku penistaan agama itu kini telah ditangkap aparat dari Polda Sulawesi Selatan.

Dia ditangkap karena melempar kitab suci Alquran dan nyaris merobeknya pada Kamis (9/7) siang lalu.

Tak perlu waktu lama, Ince pun kini ditangkap oleh polisi.

Kasus ini bahkan sudah dirilis secara langsung oleh Kapolda Sulsel Irjen Mas Guntur Laupe.

Di hadapan polisi, Ince menyesal telah melakukan penistaan agama.

"Saya sangat menyesal, dan ini saya lakukan karena emosi karena selalu dituduh lapor-lapor polisi,” kata tersangka.

Ince yang bekerja sebagai konsultan properti mengaku emosi saat kejadian.

"Saya emosi, saya emosi, saya lepas kontrol," sambungya dengan menangis terisak-isak.

Tak hanya menyesal, Ince juga siap menjalani proses hukum seperti aturan yang berlaku.

"Saya siap mempertanggungjawabkan perbuatanku secara pribadi,” tambah Ince.

Diketahui, saat ini, Ince telah dijadikan tersangka dan diamankan di Mapolres Pelabuhan Makassar untuk proses pemeriksaan lebih lanjut. Dia disangka melanggar Pasal 156 a KUHP dan terancam hukuman lima tahun penjara. (JPNN)