Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Bukan Orang Indonesia, Tapi 'Permak' Indonesia? Lalu Bagaimana Jokowi?

Pernahkan kamu melihat atau membaca pemberitaan tentang susahnya anak-anak di daerah-daerah pedalaman untuk menyenyam pendidikan?

Tak jarang, mereka harus bertaruh dengan nyawa hanya demi bisa berangkat ke sekolah.


Bukan Orang Indonesia, Tapi 'Permak' Indonesia? Lalu Bagaimana Jokowi?



Seperti gambar diatas misalnya, anak-anak tersebut terpaksa harus mel;ewati jembatan yang tak layak dan membahayakan keselamatan mereka agar bisa berangkat sekolah.

Mungkin baru sebatas itu kepedulian yang kita miliki untuk anak-anak yang ingin pintar ini.

Tapi hal itu tidak berlaku bagi pria dengan hati mulia ini.

Melihat berbagai pemberitaan tentang kisah pilu pendidikan di daerah terpencil Indonesia, ia tak hanya prihatin, namun juga tergerak.

Ya, ia benar-benar tergerak dan mengambil langkah nyata untuk membantu mereka.

Ketika masyarakat Indonesia sedang sibuk membicarakan calon gubernur DKI Jakarta yang akan maju pilkada, pria ini justru tengah berjuang membantu masyarakat di daerah terpencil Indonesia.

Keinginannya sederhana, ia hanya ingin agar anak-anak tersebut bisa berangkat sekolah dengan aman.

Ironisnya, lelaki yang sungguh peduli pada mereka tersebut justru bukanlah dari kalangan negeri sendiri.

Ia adalah orang asing, orang bule yang tak lahir di tanah Indonesia.

Toni Ruttiman, relawan asal Swiss sudah kurang lebih tiga tahun mengajak warga di daerah-daerah terpencil untuk bergotong royong membangun jembatan karena akses jalan yang terputus.

Kisah inspiratif tentang Toni tersebut dituliskan oleh seorang sosiolog bernama Imam B Prasodjo di akun Facebooknya.

Berikut merupakan postingan Imam tentang kisah Toni :

Saat saya menulis catatan ini, saya ingin sekali tak mengeluh.
Saya tak ingin mengeluh pada negeri ini karena saya cinta pada bangsa ini.
Namun, kesabaran seringkali seperti hampir hilang bila melihat praktek di lapangan begitu banyak rintangan yang membuat hati ini kesal setengah mati.

Padahal apa yang kita lakukan semata-mata untuk perbaikan hidup rakyat marginal sebagaimana dicita-citakan para pendiri negeri ini.

Coba perhatikan ceritera berikut ini.

Ini terkait dengan nasib seorang relawan asal Swiss bernama Toni Ruttiman yang diam diam sudah tiga tahun keluar masuk kampung wilayah terlencil di Indonesia, mengajak warga bergotong royong membangun jembatan gantung sendiri karena akses jalan terputus.

Kisah kepedulian Toni pernah saya ceriterakan pada Facebook saya sebelumnya.

Toni datang ke negeri kita karena ia melihat begitu banyak anak-anak di negeri ini bergelantungan harus pergi sekolah menyebrangi sungai dengan jembatan yang rusak.

Dalam catatannya itu, Imam juga menyertakan foto Toni dan sejumlah warga membangun jembatan secara swadaya dan gotong royong.

Awal mula kepedulian Toni adalah ketika ia melihat sebuah foto tentang anak-anak Indonesia yang harus menantang nyawa untuk berangkat sekolah.

Melihat kondisi tersebut, Toni pun berinisiatif untuk mengumpulkan bahan-bahan jembatan gantung dari negerinya, Swiss.

Toni juga mengupayakan bantuan berupa pipa dari perusahaan ternama yang pemiliknya ia kenal baik agar bersedia mengirim bantuan pipa tiang jembatan dari Argentina ke Indonesia.

Toni juga merekrut beberapa tenaga kerja dari Indonesia yang setia membantunya mengerjakan misi tersebut.

Kini ia telah berhasil memasang 61 jembatan gantung di berbagai wilayah Indonesia.

Wilayah-wilayah tersebut meliputi Banten, Jabar, Jateng, Jatim, dan bahkan hingga Sulawesi, Maluku Utara dan NTT.