Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Bikin Haru, Foto Pria Miskin Memikul Jenazah Istri karena Tak Mampu Sewa Ambulans

Dana Majhi, seorang pria dengan keadaan ekonomi yang bisa dibilang rendah harus menelan pengalaman pahit setelah istrinya, Amang (42) meninggal dunia. Amang meninggal karena penyakit TBC di rumah sakit Bhawanipatna, Orissa pada 23 Agustus lalu.

Bikin Haru, Foto Pria Miskin Memikul Jenazah Istri karena Tak Mampu Sewa Ambulans


Majhi pun sempat meminta bantuan rumah sakit, agar memberinya fasilitas ambulans untuk membawa jenazah istrinya ke kampung halaman.

Namun, pihak rumah sakit menolak, dengan alasan Majhi tidak memiliki sepeser uang untuk menyewa mobil pengantar jenazah tersebut. Pihak rumah sakit bahkan tetap menolak walau Majhi telah memohon-mohon.

Dengan penuh kekecewaan, Majhi pun memutuskan untuk memikul sendiri istrinya ke kampung. Padahal, jarak tempuh dari rumah sakit ke kampung halamannya berjarak sekitar 60 kilometer.Tak sendiri. Majhi memikul jasad istrinya dengan berjalan kaki ditemani oleh putrinya yang berusia 12 tahun.

Dengan tertatih, Majhi memikul istrinya yang kaku sepanjang 12 kilometer. Setelah itu, barulah Majhi mendapat banyak perhatian di jalan dan mendapatkan bantuan warga yang iba pada Majhi.Saat dikonfirmasi, pihak rumah sakit membantah. Mereka mengklaim Amang meninggal sesaat setelah masuk rumah sakit pada Selasa malam.

“Pada saat Amang meninggal, jenazahnya dibawa oleh suaminya. Suaminya membawa keluar mayat istrinya tanpa memberi tahu staf rumah sakit,” kata pejabat rumah sakit, B. Ardan.

Menanggapi bantahan manajemen rumah sakit, Majhi mengatakan istrinya memang meninggal pada Selasa malam. Namun dia baru membawa jenazah Amang sehari kemudian. Itu pun dilakukan dengan terpaksa karena staf rumah sakit terus meminta dia untuk mengeluarkan mayat istrinya.

“Saya meminta kepada staf rumah sakit agar menyediakan kendaraan untuk membawa pulang jenazah istri saya, tapi permintaan saya tidak dilayani, karena saya miskin dan tidak bisa menyewa kendaraan pribadi, saya tidak ada pilihan selain memikul mayatnya di atas bahu,” kata Majhi.

Bukan hanya Majhi, pada Mei lalu, dua pemuda memikul jenazah keluarga mereka dari Puskesmas Jharigan ke Desa Bharuamunda, yang berjarak hampir 30 kilometer, karena mereka tidak punya uang untuk menyewa ambulans.