Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Parah! Suara Rintihan PRT Itu Terdengar dari Rumah Artis Sinetron

Parah! Suara Rintihan PRT Itu Terdengar dari Rumah Artis Sinetron | Unit Perlindungan Perempuan dan anak (PPA) Polresta Bekasi Kamis (17/03/16) menerima laporan tindak kekerasan yang dilakukan seorang majikan terhadap Pembantu Rumah Tangga (PRT). Dua pembantu tersebut mengaku, telah mendapat tindak kekerasan yang dilakukan oleh majikannya di rumah, Perumahan Prima Lingkar Asri, Jalan Caman Raya Blok B1 No. 11, Jatibening, Pondokgede, Kota Bekasi.

Suara Rintihan PRT Itu Terdengar dari Rumah Artis Sinetron


Yang mengejutkan, dugaan penganiayaan itu dilakukan oleh pemain sinetron bernama Andi Syalimar Malik alias Cima dan kakaknya, Nabila. Kedua korban tersebut adalah Tiara (22) asal Tulang Bawang Lampung dan Salimah (43) asal Banyumas Jawa Tengah.

Warga sekitar perumahan tersebut sebelumnya sering mendengar suara jeritan kesakitan dari dalam rumah pelaku. Akhirnya warga pun mendatangi rumah tersebut dan menanyakan kepada pembantu rumah tersebut tentang sumber suara rintihan yang sering di dengar warga. melapor ke Kepolisian.

Betapa terkejutnya, warga begitu mendapat penuturan korban (pembantu), bahwa mereka menjadi korban kekerasan oleh majikannya. Warga setempat lalu mendampingi korban untuk melaporkan kejadian ini ke kepolisian setempat.

Menurut penuturan korban, majikannya itu kerap melakukan tindakan kekerasan seperti menjambak rambutnya, menendang, memukul bahkan menggunting rambutnya dengan kasar.

"Tak hanya itu, saya juga belum digaji selama lima bulan dan sering dikasih makanan sisa," ucap Tiara.

Pemicunya pun hanya masalah sepele, Korban sering telat ketika dipanggil majikannya dan akhirnya pelaku pun emosi. Tiara juga menambahkan bahwa pembantu dirumah tersebur ada tiga orang, satu lagi bernama Marni. Namun saat akan diselamatkan warga Marni keburu ditahan oleh pihak majikan.

"Marni malah lebih parah mendapatkan perlakuan kasar, pokoknya kami sudah diperlakukan seperti binatang," tambah Tiara.

Tiara menambahkan, setiap bulan gaji yang harus diterima mereka mencapai Rp 2,7 juta. Namun diawal bulan hanya digaji Rp 1,2 juta dan bulan keduanya Rp 1,8 juta.

Setelah dua bulan itu, para pembantu rumah tangga tersebut tidak pernah digaji dan disekap di dalam rumah tanpa diperbolehkan keluar sama sekali.

Kepala Sub Bagian Humas Polresta Bekasi Kota, Iptu Puji Astuti membenarkan laporan kedua korban. Namun, pihaknya masih mencari alat bukti kasus kekerasan yang dilakukan majikanya tersebut.

"Kami masih menunggu hasil visum dari pihak dokter, karena ini berupa laporan secara lisan saja," ujar Puji.