Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Oalah.. Minta Tolong Mbah Dukun Malah Di 'Hoho Hihi' Berkali-kali

Aparat Polres Wonogiri, Jawa Tengah, menangkap seorang dukun yang juga aktivis sebuah LSM karena telah memaksa 'hoho hihi' seorang wanita sejak 2011.

Oalah.. Minta Tolong Mbah Dukun Malah Di 'Hoho Hihi' Berkali-kali
Ilustrasi Minta Tolong Mbah Dukun Malah Di 'Hoho Hihi' Berkali-kali

AS (55), tersangka, mengaku telah mengeksekusi RPG (20), sejak korban masih duduk di bangku SMA. Kini, korban sudah di bangku kuliah.

AS ditangkap setelah orangtua korban melaporkan tindakan asusila yang dilakukannya sejak korban masih kelas 1 SMA, dengan dalih pengobatan. Perbuatan itu dilakukan tersangka berkali-kali.

Kasus tindak asusila yang dilakukan AS bermula saat korban meminta bantuan tersangka untuk bisa menjauh dari sang pacar. AS pun beraksi. Dia mengatakan bahwa korban hamil. Panik, korban pun meminta agar AS menggugurkan kandungannya.

Tersangka mengatakan tidak bisa, karena usia kandungan telah lebih dari dua bulan. Tetapi tersangka mengaku bisa memindahkan janin dalam kandungan korban ke wanita lain, dengan upacara ritual dan persetubuhan.

Selain hoho hihi dengan korban, tersangka sempat memeras uang korban jutaan rupiah dengan merekayasa cerita bahwa wanita yang menerima transfer janinnya tewas saat melahirkan dan keluarganya menuntut ganti rugi.

Belakangan terungkap bahwa korban tidak pernah hamil dan tersangka sendiri juga bukan seorang dukun.

Menurut Kapolres Wonogiri AKBP Windro Akbar Panggabean, Jumat (13/2/2016), kasus penipuan berbuntut kekerasan 53k5u4l terhadap korban baru terungkap awal Februari lalu setelah korban menolak saat dipaksa untuk kembali melayani nafsu bejat tersangka.

Lantaran mendapat ancaman, korban yang sekarang kuliah di sebuah perguruan tinggi di Solo mengadu kepada kedua orangtuanya. Kasus tersebut dilaporkan polisi dan akhirnya tersangka ditangkap.

Akibat perbuatannya, pelaku dijerat dengan Pasal 81 UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dengan ancaman hukuman minimal tiga tahun penjara dan maksimal 15 tahun penjara.

sumber: sindonews