Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

7 Ucapan Pedas Lulung Pada Ahok, Dari Merengek sampai Bohong

7 Ucapan Pedas Lulung Pada Ahok, Dari Merengek sampai Bohong


7 Ucapan Pedas Lulung Pada Ahok, Dari Merengek sampai Bohong

Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta dari Fraksi PPP Abraham Lunggana (Lulung) dan Gubernur Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) selama ini kerab berseteru.

Kedua tokoh, sekarang sama-sama bersiap maju ke bursa Pilkada DKI Jakarta yang akan diselenggarakan Februari tahun 2017. Tetapi, Lulung yang diberbagai kesempatan bilang siap maju, sampai sekarang belum ada satu pun partai yang resmi mengusungnya, termasuk partainya sendiri yang sekarang dilanda dualisme kepemimpinan.

Tak mau kehilangan panggung, sambil menunggu ada partai mengusung, Lulung pun mempersiapkan diri maju lewat jalur independen. Dia meresmikan Jaringan Suka Haji Lulung.

Berbeda dengan seterunya, sekarang sudah mantap maju lewat jalur non partai politik bersama Heru Budi Hartono. Ahok didukung relawan Teman Ahok yang sekarang sedang berjuang mencari tiket buat mengusung Ahok-Heri lewat pengumpulan fotokopi KTP warga Jakarta. Walau Ahok maju lewat jalur independen, ada dua partai politik yang sudah resmi mendukung, Partai Nasional Demokrat pimpinan Surya Paloh dan Partai Hati Nurani Rakyat pimpinan Wiranto.

Di tengah persiapan, Lulung tetap melontarkan kalimat-kalimat kritik pedas kepada Ahok. Dan biasanya, Ahok selalu meresponnya.

Berikut ini adalah beberapa kalimat yang dilontarkan Lulung dan terkadang memicu diskusi-diskusi hangat di media sosial.

Kalau maju independen jangan merengek ke partai

Di Jakarta, Kamis (10/3/2016) lalu, petinggi PPP itu menantang Ahok untuk tetap konsisten kalau ingin maju lewat jalur independen, apalagi telah mengumumkan Kepala Pengelola Keuangan dan Aset Daerah Heru Budi Hartono menjadi pasangan. Ia mengkritik sikap Ahok yang ternyata masih menerima dukungan partai politik.

"Nah yang kedua kalau Ahok sudah nentang saya dia konsisten dong kepada independen, jangan ngerengek lagi ke partai-partai. Ngapain dia terima Nasdem lagipula kan? Kalau dia terima Nasdem berarti dia masih munafik," kata Lulung.

Menurut Lulung sikap tersebut merupakan bentuk inkonsistensi.

"Ingat dong, konsisten, jangan munafik. Dia kan pejabat negara yang didengar omongannya sama orang," kata Lulung.

Tantang mana duluan berhasil kumpulkan fotokopi KTP warga Jakarta

Tak mau kalah dengan Ahok yang memiliki relawan militan, Teman Ahok, Lulung juga mempunyai relawan bernama jaringan Suka Haji Lulung. Ini disiapkan Lulung kalau nanti tidak ada partai yang mengusungnya.

Relawan tersebut membantu menghimpun dukungan warga Jakarta melalui pengumpulan fotokopi KTP dan tandatangan.

Lulung ingin tahu duluan mana yang berhasil mengumpulkan fotokopi KTP warga Jakarta antara relawannya dan Teman Ahok.

"Karena itu saya turutin omongan dia (bakal maju independen kalau PPP masih ada masalah), saya akan independen. Duluan mana nanti dukungan KTP-nya saya sama dia," kata Lulung di Jakarta, Kamis (10/3/2016).

Teman Ahok sendiri sebenarnya sudah berhasil mengumpulkan fotokopi KTP sedikitnya 800 ribu lembar atau sudah melebihi batas yang ditentukan KPUD.

Jaringan Suka Haji Lulung berada di Jalan Fachrudin, Jakarta Pusat.

Dia sebut siapa tidak memusuhi Ahok

Lulung mengaku tidak keberatan kalau disebut sebagai lambang perlawanan terhadap Ahok. Menurutnya hal ini malah akan menguntungkannya dalam pilkada Jakarta.

Di rumah Boy Sadikin, Jalan Borobudur, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (8/3/2016), mengatakan warga yang selama ini kecewa dengan kinerja Ahok akan mendukungnya.

Menurut dia, musuh Ahok sekarang berasal dari berbagai kalangan, dari warga kecil sampai menteri.

"Siapa yang nggak musuhin Ahok sekarang? Orang kecil, wong cilik, musuhin Ahok. Akademisi dikritik sama dia. Menteri-menteri dilawan sama dia, DPR dilawan," ujar Lulung.

Itu sebabnya, pengusaha yang juga politisi itu yakin mampu head to head dengan di pilkada.

Yakin Ahok tak bisa penuhi syarat KTP

Lulung meragukan relawan Teman Ahok bisa mencapai target mengumpulkan satu juta fotokopi KTP warga Jakarta. Dia menilai, relawan tersebut tak memiliki struktur, berbeda dengan partai politik yang punya struktur jelas, mulai dari ranting, kecamatan, sampai RT dan RW.

"Kan partai jelas, strateginya sudah terstruktur. Mesin politiknya akan jalan sendiri, nanti bergerak. Makanya, saya katakan, Ahok jangan sombong. Saya yakin, (foto) KTP-nya juga tak cukup," kata Lulung usai menghadiri Musyawarah Kerja Wilayah DPW PKB DKI Jakarta di Paseban, Jakarta Pusat, Kamis (3/3/2016).

Anggap Ahok pencitraan lewat kasus limbah kabel

Ahok menuding keberadaan kulit kabel di sepanjang gorong-gorong Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, merupakan sabotase untuk menjatuhkan dirinya. Limbah sengaja dibuang ke sana agar selokan mampat dan kalau hujan, area Ring 1 banjir.

Lulung menilai sikap Ahok berlebihan. Menurut dia, itu pernyataan pencitraan saja.

"Jangan kemudian nunjuk hidung orang dan mengatakan ini sabotase. Jangan begitulah," kata Lulung setelah menghadiri acara Musyawarah Kerja Wilayah DPW PKB DKI Jakarta di Paseban, Jakarta Pusat, Kamis (3/3/2016).

"Ah, sudahlah, pencitraan Ahok sudah basi. Sudah, kerja ajalah yang benar, jangan nyalahin orang. Kan elu (Ahok) yang bikin izin, kok elu nggak mengawasi, sih," kata dia.

Ingin buktikan Ahok bohong

Lulung pernah menyatakan akan membawa bukti-bukti baru untuk menguatkan dugaan Ahok telah berbohong kepada publik kasus pembelian lahan untuk Rumah Sakit Sumber Waras, Jakarta Barat. Bukti-bukti tersebut, katanya, akan diserahkan ke KPK yang tengah menangani kasus.

"Selama ini, Ahok selalu bilang pembelian lahan RS Sumber Waras ada di KUA-PPAS (kebijakan umum anggaran dan prioritas plafon anggaran sementara). Gue mau buktikan kalau Ahok berbohong," kata Lulung di gedung DPRD DKI, Selasa (16/2/2016).