Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Mitos Tahun Kabisat, Pernikahan Yang Berujung Perpisahan

Mitos Tahun Kabisat, Pernikahan Yang Berujung Perpisahan - Menikah sempat menjadi satu dari deretan rencana hidup Ardita Mustafa dan Raden Anom Prakoso tahun ini. Namun, begitu menyadari kalau 2016 adalah tahun kabisat, mereka langsung menunda rencananya.

Mitos Tahun Kabisat, Pernikahan Yang Berujung Perpisahan


Orang tua Anom adalah pihak pertama yang mengingatkan tentang mitos menikah di tahun kabisat. Mereka percaya kalau di tahun kabisat pantang melakukan pernikahan.

"Kata mertua saya yang orang jawa sih begitu, tahun kabisat pantang untuk menikah karena yang berpasangan akan berpisah, mitosnya," kata Ardita kepada CNNIndonesia.com, beberapa waktu lalu.

Mendengar mitos tersebut, keluarga Ardita pun setuju dengan keputusan menunda pernikahan. Daripada anak mereka celaka rumah tangganya, tidak ada salahnya mengikuti saran tersebut.

Terlepas dari benar atau tidaknya mitos itu, setidaknya Ardita dan Anom punya waktu lebih banyak lagi untuk menambah modal menikah dan mempersiapkan rencana pestanya dengan lebih matang.

Sebenarnya Ardita sendiri belum yakin kebenaran dari mitos tersebut. Meski ia sudah mengetahui mitos tersebut sejak tiga tahun lalu, tapi ia masih percaya-tidak percaya.

Namun, ada satu hal yang membuat dia akhirnya percaya dengan mitos tersebut. Salah satu temannya yang menikah di tahun kabisat dan kemudian mengalami kegagalan pernikahan.

"Ada teman saya yang mengalami hal demikian, sampai bercerai. Dia pun sudah diperingatkan sebelumnya, namun tetap menjalani," ujar Ardita.

Berseberangan dengan Ardita dan Anom, Makiyah Munawaroh dan Dika Kardi justru melangsungkan pernikahan di tahun kabisat. Tepat pada 23 Januari 2016, kedua sejoli itu mengikat janji suci sehidup semati.

Makiyah mengaku tidak tahu tentang mitos pernikahan di tahun kabisat itu. Ia belum pernah mendengar sebelumnya.

"Itu mitos dari mana? Seram sekali mitosnya," kata Makiyah.

Walaupun dinilai menyeramkan, jika Makiyah mengetahui mitos itu sebelum menikah pun, ia akan tetap memutuskan untuk menikah. Menurutnya, kalau niat menikahnya baik, hasilnya pun akan baik.

"Positive thinking saja. Kami nikah dengan upaya lifetime, untill death do us apart," ujar dia. "Tapi pas denger mitos itu, malah banyak-banyak berdoa jadinya."

Di sisi lain, Loecia Nhadilah yang mempunyai rencana untuk menikah tahun ini pun tidak tergoyahkan dengan mitos tersebut. Rencananya sudah bulat, ingin menikah dengan sang laki-laki pujaan Joko Ismoyo.

"Percaya sama Allah saja. Saya berpasrah dengan yang di atas," ujar Loecia.

Sama halnya dengan Loecia, Marti Riyani yang berencana akan melangsungan pernikahan di tahun kabisat ini juga tidak percaya dengan mitos tersebut. Meski baru pertama kali mendengarnya, Marti mengaku tidak takut.

Ia dan calon suaminya bernama Muhammad Syaikhoni tetap berada pada rencana semula, menghalalkan hubungan di tahun 2016.

"Saya tidak percaya hal-hal yang seperti itu sih," kata perempuan berhijab itu.

Wedding Organizer Masih Kebanjiran Order

Entah karena banyak yang tidak tahu atau banyak yang tidak percaya tentang mitos kegagalan pernikahan tahun kabisat, wedding organizer masih menerima banyak order dari calon pengantin.

Pemilik wedding organizer Bantu Manten Muhammad Yazid Khadafy mengatakan, sejauh ini calon pengantin yang memakai jasa wedding organizernya masih cukup banyak. Namun, karena masih awal tahun tentu saja datanya masih akan terus bertambah.

"Kalau antusiasmenya, banyak. Sampai dengan habis tahun baru ada 30. Tapi karena masih awal tahun belum kebaca data pastinya," kata Yazid.

Menurut dia, mitos kegagalan pernikahan di tahun kabisat tidak terlalu berdampak signifikan terhadap bisnisnya. Sebab, masih lebih banyak orang yang tidak mempercayai mitos tersebut.

Namun, Yazid mengungkapkan, prinsip itu memang masih dipegang oleh sebagian masyarakat. Ia menyebutkan, biasanya warga yang berada di Jakarta Barat dan Jakarta Pusat yang paling percaya dengan mitos tersebut.

Sementara di wilayah lainnya, tidak berpengaruh. "Pangsa pasar di wilayah selatan tidak ada pengaruhnya. Karena masih bermain dengan pernikahan tradisional. Ada beberapa klien yang malah terpengaruh hitungan Jawa," ujar Yazid.

Yazid mengatakan hanya ada beberapa klien yang meminta akad dilakukan sore hari karena sesuai dengan perhitungan weton. Padahal biasanya akad nikah dilakukan pada pagi hari.

"Kemarin dapat permintaan akad nikahnya Rabu, resepsi Minggu. Tapi kalau sampai boleh atau tidaknya menikah, tidak sampai ke situ," katanya.

Tapi, pada 2012 lalu, Yazid dan tim juga pernah mendapat klien yang percaya dengan mitos tahun kabisat. Kala itu kliennya memutuskan untuk menunda pernikahan sampai tahun akhir tahun.

"Harusnya bulan April, tapi diganti jadi Desember karena prinsipnya seharusnya tahun kabisat sudah selesai di akhir tahun," ujarnya.

Mitos kegagalan pernikahan yang berlangsung pada tahun kabisat berasal dari Yunani. Tahun kabisat dianggap sebagai tahun yang tidak menguntungkan untuk melangsungkan pernikahan.

Akibatnya, calon pengantin yang sudah bertunangan akan menghindari menikah di tahun kabisat.

Entah kebetulan atau tidak, di Indonesia, beberapa artis yang menikah di tahun kabisat pun ternyata berujung pada perceraian. Misalnya saja Masayu Anastasia dan Lembu Wiworo Jati.

Keduanya menikah pada 6 Juli 2008. Namun, sejak akhir tahun lalu, Masayu menggugat cerai suaminya itu.

Ada juga pasangan Denada dan Jerry Aurum yang bercerai pada tahun lalu. Setelah ditilik, ternyata mereka menikah pada 15 Februari 2012 yang juga merupakan tahun kabisat.

Walaupun menikah pada tahun yang sama, Andhika Pratama dan Ussy Sulistyawati ternyata masih memiliki hubungan yang harmonis. Keduanya menikah pada 21 Januari 2012.

Sama halnya dengan Andhika dan Ussy, Ferry Maryadi dan Deswita Maharani pun masih berbahagia dengan pernikahannya. Pasangan yang sudah dikaruniai satu anak itu menikah pada 3 Februari 2012.

(CNN Indonesia)