Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Wahai Para Istri Jangan Gugat Kepemimpinan Suami

Hal ini bisa terjadi jika ada kebanggaan istri dalam hal status sosial, kehormatan keluarga, pendidikan, dan merasa penghasilannya lebih besar dari sang suami, atau saat melihat suaminya ‘lemah,’ istri langsung mengambil alih dengan alasan persamaan gender, dan ini tidak dibenarkan dalam Islam.

“..Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang sengan kewajibannya menurut cara yang makruf. Akan tetapi para suami mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada istri-istrinya. Dan Allah maha Perkasa lagi maha Bijaksana..” (al Baqarah:228)

Muhammad bin Ibrahim al-Hamd mengatakan jika seorang istri yang cerdas adalah perempuan yang memahami kodratnya dan berhenti pada batas-batas yang telah ditetapkan untuknya. Kepemimpinan menjadi hak laki-laki dan kemuliaan bagi perempuan. Jadi sepanjang hak dan kewajiban sama antara lelaki dan perempuan, maka tak ada keraguan lagi pada keduanya untuk melakukan hal yang sama, seperti dalam hal pendidikan, hak kewarganegaraan, hak mendapatkan perlindungan layak, hak mencari penghasilan sesuai bidangnya dan lain sebagainya.

Bagaimana sebaiknya cara Istri memperlakukan suami, agar tidak dianggap sebagai “penggugat kepemimpinan suami?” inilah kiatnya:

1.Selalu menganggap suami sebagai “Raja”

Dalam hal ini adalah pemimpin rumah tangga yang harus dihormati bagaimana status social sebelumnya, apapun pekerjaannya (mungkin posisi pekerjaan istri lebih baik dari suami). Hingga layani dengan sepenuh hati, patuh kepadanya (selama bukan untuk berbuat buruk dan dosa), menghargai setiap upayanya.

2.Menganggap suami sebagai sahabat

Jika istri menganggap suami sebagai orang terdekatnya yang selalu memberi kenyamanan pada dirinya, mencurahkan segala isi hatinya, dipercaya untuk memecahkan masalah, menyimpan rahasia dan percaya hanya suami yang mampu beri pengayoman dalam kehidupan rumahtangganya.

3.Tidak selalu curiga dengan suami

Hati-hati dengan kecurigaan berlebihan, karena maksud hati ingin mengorek semua tentang suami, malah bisa jadi  fatal. Bijaksanalah jika ingin menanyakan sesuatu yang sifatnya sensitif.

4.Diskusi tentang banyak hal

Mintalah pendapat dan penilaian pada suami tentang cara pengasuhan anak, masalah keuangan, masalah tetangga dan banyak masalah lainnya. Suami akan senang jika ia merasa diperlukan oleh suami.

5.Anggap penting suami, lebih dari pekerjaan dan hal-hal lainnya

Seperti, berhenti memasak, mengetik, telepon, fesbukan, menyuci atau pekerjaan lainnya saat suami datang. Sambut dengan wajah sumringah, sajikan minuman atau lainnya, beri kesempatan berbincang walau sebentar sebelum lanjutkan aktivitas lainnya. Suami akan sangat bahagia jika ia memang dianggap penting oleh istrinya.

6.Jangan mencela atau meremehkan saat suami memberi pendapat atau keputusan penting dalam keluarga

Ini adalah hal yang sangat fatal, jika memungkinkan diskusilah dalam mencari jalan keluar yang paling baik, jika istri tak menyetujui pendapat atau keputusan suami.

Dengan demikian para istri diharapkan tidak menggugat kepemimpinan suami pada diri dan keluarganya, karena itu memang sudah merupakan sunatullah. Seperti halnya, wanita tercipta dari tulang rusuknya laki-laki, dan Rasulullah pun sudah mengisyaratkan dan membenarkan dalam hal akal dan agama, memang lelaki lebih unggul, kurangnya kekuatan hingga memang tidak boleh berperang dengan memanggul senjata dan bertempur melawan musuh dan kondisi biologis lainnya yang bisa mengganggu wanita menjadi pemimpin, seperti hamil, haid, nifas dan lain sebagainya.

Namun kepemimpinan dalam rumah tangga ini bukan berarti kesewenang-wenangan dan arogan tetapi memikul tanggung jawab, menjaga kehormatan, dan menebar kasih sayang, serta pertanggungjawaban di akhirat kelak.