Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Tak Usah Ragu Dalam Memberi Pujian,Karna Rasulullah Pun Melakukannya

Tips-Memberi-Pujian-Yang-Tepat-Untuk-Anak

Diberi pujian, kebanyak orang akan suka, karena pujian mengandung energi positif yang membahagiakan. Pujian yang tepat, dan hal yang sebenarnya bukan hal yang dilarang dalam agama. Tentu pujian yang berlebih-lebihan dan mempunyai maksud tertentu, bak menginginkan udang dibalik batu, adalah yang dilarang.

Rasulullah juga sering memuji sahabatnya. Pujiannya bukan sekedar asal-asalan. Beliau selalu mengatakan dengan terus terang dan apa adanya tanpa bermaksud melebih-lebihkan, Jika yang akan ditunjuk kelebihannya adalah sahabat terdekat, yang disampingnya ada beberapa sahabat beliau yang lain, maka beliau memuji secara beruntun kelebihan dari mereka. Demikian itu dimaksudkan agar semua sahabat merasakan bahagia karena mempunyai potensi atau kelebihan yang diakui Rasulullah, tanpa merasa direndahkan karena tak hanya satu orang dipuji.

Seperti contoh, saat Rasulullah duduk bersanding diantara para sahabatnya., “Sahabatku yang paling lembut dan penyayang adalah Abu Bakar. Yang paling tegas terhadap hukum Allah adalah Umar. Yang paling pemalu adalah Utsman, paling pandai dan tepat dalam mengambil keputusan adalah Ali.  Yang paling halal dan haram adalah Muadz bin Jabal. Yang paling dermawan soal utang adalah Zaid ibn Tsabit. Yang paling baik membaca Al Qur’an adalah Ubay ibn Ka’ab. Jika setiap kaum memiliki orang kepercayaan maka orang kepercayaan kaum ini adalah Abu Ubaidah ibn al-Jarah”.

Pujian yang sangat elegan, terdengar menyenangkan bagi setiap orang yang mendengarnya, karena masing-masing disebut dengan kebisaan, sifat yang melekat dari padanya. Semua terlihat istimewa, tak ada satu sahabat yang lebih dari sahabat yang lain, yang memungkinkan akan sombong  dan ketika ia tak tersebut, maka merasa rendah diri dan tak berguna, Rasulullah memperlakukan sahabatnya dengan adil, seimbang dan sama rata.

Ungkapan pujian, atau sekedar rasa bahagia karena mencintai salah satu sahabatnya yang lama pergi di medan perang. Rasulullah dan para sahabatnya berpisah cukup lama. Salah satu sahabat itu adalah Ja’far bin Ali Thalib. Karena lama tak bertemu semenjak hijrah ke Habsyah dan terhalang perang khaibar yang dimenangkan oleh pihak muslim, beliau mengungkapkannya dengan kata-kata bersayap,” Aku tidak tahu, manakah yang lebih membahagiakanku. Kemenangan atas Khaibar, atau berjumpa denganmu?” kata beliau sambil memeluk erat Ja’far. Hal ini membuktikan beliau tak menafikan bahwa ia sangat menantikan kedatangan sahabatnya itu, namun disisi lain, beliau ingin tunjukan bahwa kemenangan Perang Khaibar juga sangat penting dan membahagiakan, hingga orang-orang yang ikut dalam perang itu dan melihat Rasulullah sangat senang dengan kedatangan Ja’far tak merasa tersisihkan.

Pujian yang tepat bisa menjadikan motivasi, rasa percaya diri dan merasa dirinya ada harganya. Apalagi yang memuji adalah orang-orang yang sangat dihormatinya. Seorang pimpinan yang memuji bawahannya secara proporsional atas hasil kerja bawahannya, akan sangat berarti. Begitu pula pujian guru dengan muridnya. Orang tua kepada anaknya, itu akan berpengaruh sangat besar bagi perkembangan mental dan fisik anak.

Namun pujian yang harus diwaspadai adalah pujian bawahan kepada pimpinan. Karena tak jarang, karena factor sungkan,  atau ingin memperoleh sesuatu yang lebih baik, misalnya dalam hal bonus uang atau jabatan, maka seorang bawahan terkadang mengatakan sesuatu yang tak sebenarnya. Hingga terkenal dengan orang yang “bermuka dua” atau “asal bapak senang” untuk menunjukkan kalau pujian itu ada maksud tertentu.

Yang paling berimbang  sebaiknya tak hanya  memuji saja, namun juga memberi teguran yang baik dan membangun, bila kedapatan bawahan, anak didik, seorang anak, tetangga atau orang lain berbuat kesalahan, bisa tegas bila memang diperlukan, hingga bisa membuat orang tersadar diri dan bisa memperbaiki lebih baik lagi.. Untuk itu tunggu apa lagi, memuji kalau bisa membuat orang termotivasi, bahagia dan orang lain terinspirasi maka lakukanlah. Tentu secara proporsional, tanpa merendahkan orang lain seperti yang dicontohkan Rasulullah.