Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Mengukur Kriteria DiriMelalui Al-Quran

images

Pernahkah sahabat muslimah menjalani tes kepribadian? Tes kepribadian seringkali kita lakukan saat akan mengetahui, apa potensi yang kita miliki. Biasanya tes ini berlangsung saat kita memasuki dunia sekolah, dunia kerja atau sedang galau karena masalah hidup. Berbondong-bondong orang antusias mengikuti tes ini, tes mengukur kadar duniawi kita.

Kira-kira, adakah tes yang sama telah kita lakukan untuk mengukur kadar kemampuan akhirat kita? Adakah yang tertarik untuk mengukur, “siapa dirinya” menurut pandangan Allah, pemilik kehidupan? Banyak orang lupa bahwa sebenarnya Al-Quran telah komplit menyebutkan segala jenis tipe dan kriteria manusia terpuji lengkap dengan tingkatan dan jenis keunggulannya. Demikian juga sebaliknya, kriteria manusia yang tercela, lengkap dengan tingkatan jenis dan keburukannya.

Muhammad bin Nashr al Marwazy dalam Mukhtasar Qiyaamul Lail mengisahkan tentang Ahnaf. Suatu kali beliau duduk merenungi firman Allah dalam Surah Al-Anbiya: 10, yang terjemahannya: “Sungguh, telah Kami turunkan kepadamu sebuah kitab (Al Qur’an) yang di dalamnya terdapat sebab-sebab kemuliaan kamu. Maka apakah kamu tidak mengerti”?

Beliau pun bergumam, “Saya akan membaca, mushafal Qur’an dan mencari ayat yang menyebutkan tentang karakter diriku, hingga aku tahu, tipe orang seperti apakah diriku dan termasuk kaum yang mana yang paling mirip denganku?”

Maka mulailah beliau membaca dan melewati karakter suatu kaum

(QS. Adz Dzariyat:17-19)

Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam; Dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah). Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bahagian.

(QS. Ali Imran: 134)

“Yaitu orang orang yg mau derma selagi waktu senang, dan selagi susah, dan yg menahan amarahnya, dan yg mema’afkn orng orang , dan Allah mencintai orang orang yg mengerjakan kebaikan.”

Q.S Al Hasyr: 9

“… dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung”

QS. Asy- Syura: 37

“dan (bagi) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan-perbuatan keji, dan apabila mereka marah mereka memberi ma`af.”

Setelah melewati bacaan berisi kriteria kaum yang dipuji oleh Allah tersebut, beliau berkata “Allahumma lastu a’rifu nafsi fi haa”ulaa’i”.  “Ya Allah, aku belum mendapati diriku termasuk dalam kriteria kaum-kaum itu.”

Menilik apa yang terjadi pada Ahnaf bin Qais, sudah sepatutnya kita turut bercermin sepertinya.  Bukan berarti kepribadian beliau jauh dari kebaikan-kebaikan yang ada dalam Qur’an, namun apa yang beliau lakukan adalah sikap tawadu. Lalu dimanakah kita? Siapakah kita menurut kriteria Allah?

Janganlah mengklaim diri, bahwa kita pernah melakukan kebaikan seperti yang disebutkan dalam firman Allah. Sekedar beramal shalih namun belum konsisten melakukannya dan istiqamah karena mengharap ridha Allah, belumlah cukup.

Karena bisa jadi kita ada di kriteria ini:

QS: Ash-Shaffat:35

“Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka “Laa ilaaha illallah” mereka menyombongkan diri,”

QS: Al-Mudatsir: 42-44

“…Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat dan kami tidak pula memberi makan orang miskin.”

Maka janganlah kita beriman dan melakukan amal shalih hanya karena kebetulan, karena warisan nenek moyang. Marilah kita terus menelaah diri agar mendapatkan rahmat dari Allah. Marilah perbaiki kriteria kita dengan tak henti untuk terus belajar dan mempelajari syarat-syarat diterimanya amal dan iman kita, modal di hari akhir kelak. Aamiin.