Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Hukum Fikih Darah Keguguran

haid

Sahabat muslimah, setiap wanita dianugrahkan Allah kepadanya gumpalan sel-sel dan daging yang berada di dalam perutnya, yaitu rahim. Rahim adalah salah satu kunci kesempurnaan wanita, di saat seorang wanita dinikahi seorang laki-laki, dia akan mengalami selayaknya proses kehamilan, inilah tahap mulia seorang wanita karena ia akan menjadi ibu bagi calon bayinya.

Kegagalan di tahap kehamilan sering kali terjadi, pada umumnya disebabkan sang ibu terlalu lelah, terjatuh, atau hal-hal lain yang menjadi faktor terjadinya keguguran. Akan tetapi timbul banyak petanyaan tentang kategori darah keguguran itu sendiri, atau bahkan tentang nasib janin yang gugur tersebut, apakah ia harus didoakan atau tidak?

Rasulullah SAW menjelaskan fase-fase penciptaan manusia di dalam rahim, beliau bersabda, “Sesungguhnya salah seorang di antara kalian di kumpulkan ciptaannya di perut ibunya 40 hari dalam bentuk air mani, kemudian menjadi segumpal darah dalam waktu yang sama, kemudian menjadi segumpal daging dalam waktu yang sama, kemudian di utuslah malaikat kepada nya untuk meniupkan ruh.” [H.R. Bukhari Muslim].

Hadis ini bisa menjadi salah satu petunjuk untuk mengetahui jenis darah yang keluar jika terjadi keguguran dalam rentang waktu tersebut, para ulama memberikan incian: jika mengalami keguguran di usia kehamilan berkisar antara 81-120 hari, maka kehamilan tersebut berada pada fase ketiga ( mudghah ), janin masih dalam bentuk gumpalan daging meski sudah mulai terjadi pembentukan anggota badan, bentuk , wajah, dst.

Jika terjadi keguguran di fase ini, ulama merinci menjadi dua: Pertama, janin belum terbentuk seperti layaknya manusia, pembentukan anggota badan masih sangat tidak jelas, hukum keguguran dengan model jenis ini statusnya sama dengan keguguran fase pertama, artinya status wanita tesebut dihukumi istihadhah bukan nifas.

Kedua, janin sudah terbentuk layaknya manusia, dan secara dzahir seperti manusia kecil, Keguguran pada fase ini, ulama sepakat bahwa darah tersebut dikategorikan nifas, sehingga berlaku hukum-hukum wanita nifas. Jika terjadi keguguran pada usia kehamilan memasuki lima bulan, maka kehamilan tersebut telah memasuki fase ditiupkannya ruh ke dalam janin, maka ulama sepakat bahwa darah yang keluar merupakan darah nifas, maka berlaku pula hukum-hukum wanita nifas.

Bagaimana nasibnya di alam sana? Apakah harus didoakan? Kita tahu bahwa sebelum seorang anak mencapai usia baligh, maka dia belum termasuk mukallaf atau orang yang dibebani. Dan apa yang dilakukannya belum dituliskan sebagai beban yang harus di pertanggung jawabkan di hadapan Allah SWT, apalagi jika anak tersebut masih dalam keadaan janin, sehingga apabila kita mendoakan nya kepada Allah, maka doa tersebut bukan doa mohon pengampunan untuknya sebagaimana doa yang kita kirimkan untuk orang dewasa yang meninggal dunia, akan tetapi doa yang tepat adalah untuk diri kita sebagai orang tua yang kehilangan, semoga dengan nya kita mendapat pahala dan ganti yang lebih baik dari sisi Allah SWT. Waallahu a’lamu bishowab.