Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Beginilah Kepemimpinan Suami Dalam Rumah Tangga

images

Sahabat Ummi, Isu perbedaan gender antara laki-laki dan perempuan yang selalu menyeruak, sebenarnya tidak perlu dipermasalahkan karena sejak dahulupun Islam memberi hak persamaan antara laki-laki dan perempuan, tak ada perbedaan individu satu dengan lainnya, yang membedakan hanya konteks amalnya.

Allah berfirman dalam surat ali Imran ayat 195: “…sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal diantara kamu, baik laki-laki atau perempuan”

Tidak ada perbedaan gender antara lelaki dan perempuan sebab memang sebagian dari mereka adalah sebagian dari yang lain. Semua punya hak dan kewajiban yang sama, dalam berbagai hal namun perlu diketahui juga ada hal-hal yang memang fitrah wanita mengisyaratkan jika wanita memang yang didapat hanya ‘setengah dari laki-laki”, seperti soal waris, tak semua pekerjaan bisa dilakukan wanita karena bahaya atau membutuhkan tenaga besar.Begitu pula saat dirumah, istri bukanlah pemimpin rumahtangga, karena sudah menjadi sunatullah jika ia harus mau dipimpin lelaki yang menjadi suaminya.

Namun tidak bisa dipungkiri ternyata masih banyak pula wanita yang mendominasi dalam rumahtangga, baik dalam pengurusan, pengambil keputusan, perencaan keuangan bahkan dalam hal detail suami kadang tak berdaya dengan dominasi istri dirumah, hingga ada pemeo ‘ISTI’ singkatan dari “Ikatan Suami Takut Istri

Hal ini bisa terjadi jika ada kebanggaan istri dalam hal status sosial, kehormatan keluarga, pendidikan, dan merasa penghasilannya lebih besar dari sang suami, atau saat melihat suaminya ‘lemah,’ istri langsung mengambil alih dengan alasan persamaan gender, dan ini tidak dibenarkan dalam Islam.

“…Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang sengan kewajibannya menurut cara yang makruf. Akan tetapi para suami mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada istri-istrinya. Dan Allah maha Perkasa lagi maha Bijaksana…” (al Baqarah:228)

Muhammad bin Ibrahim al-Hamd mengatakan jika seorang istri yang cerdas adalah perempuan yang memahami kodratnya dan berhenti pada batas-batas yang telah ditetapkan untuknya. Kepemimpinan menjadi hak laki-laki dan kemuliaan bagi perempuan. Jadi sepanjang hak dan kewajiban sama antara lelaki dan perempuan, maka tak ada keraguan lagi pada keduanya untuk melakukan hal yang sama, seperti dalam hal pendidikan, hak kewarganegaraan, hak mendapatkan perlindungan layak, hak mencari penghasilan sesuai bidangnya dan lain sebagainya.

Dengan demikian para istri diharapkan tidak menggugat kepemimpinan suami pada diri dan keluarganya, karena itu memang sudah merupakan sunatullah. Seperti halnya, wanita tercipta dari tulang rusuknya laki-laki, dan Rasulullah pun sudah mengisyaratkan dan membenarkan dalam hal akal dan agama, memang lelaki lebih unggul, kurangnya kekuatan hingga memang tidak boleh berperang dengan memanggul senjata dan bertempur melawan musuh dan kondisi biologis lainnya yang bisa mengganggu wanita menjadi pemimpin, seperti hamil, haid, nifas dan lain sebagainya. Namun kepemimpinan dalam rumah tangga ini bukan berarti kesewenang-wenangan dan arogan namun memikul tanggung jawab, menjaga kehormatan, dan menebar kasih sayang, dan diminta pertanggungjawaban diakherat kelak